Total Tayangan Laman

Sabtu, 22 September 2012

PENGARUH PEMBERIAN PAKAN BEKICOT (Achatina fulica) TERHADAP BERAT BADAN DAN KADAR PROTEIN IKAN LELE DUMBO (Clarias geriepinus)


PENDAHULUAN
            Ikan lele dumbo (Clarias geriepinus) pertama kali ditemukan di Indonesia sekitar tahun 1986 yang berasal dari Negara Taiwan dan mempunyai sifat-sifat yang lebih unggul dibandingkan dengan jenis ikan lele lainnya. Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh ikan lele dumbo adalah rasa, kandungan gizi tinggi, dan pertumbuhan yang relative cepat (Najiyati,1992). Keunggulan ynag dimiliki oleh ikan lele dumbo ini seolah-olah menutupi kekurangan lele local yang pada umumnya sangat lambat perkembangannya, sehingga sangat menguntungkan apabila ikan lele dumbo diternakkan untuk diperjualbelikan.
            Di Indonesia terdapat 6 jenis ikan lele yang mempunyai potensi untuk diperdagangkan, antara lain: Clarias batracus L., Clarias leiacanthus Bekr, Clarias nientrofi CV, Clarias melanoderma Blkr, Clarias leysmani Blkr, dan Clarias geriepinus.
            Lele dumbo mempunyai masa pertumbuhan yang relative cepat karena hanya dalam waktu relative singkat yaitu sekitar 2-3 bulan mampu mempunyai berat badan  0,2-0,3 Kg. Sedangkan lele local membutuhkan waktu 1 tahun (Najiyati, 1992). Selain itu lele betina dewasa dapat menetaskan telur antara 1000-4000 butir dan bila telur-telur tersebut dibuahi maka dalam waktu 2-3 hari akan menetas menjadi lele kecil yang kuat mencari makanan sendiri.
            Ikan seperti halnya hewan lain membutuhkan zat-zat gizi tertentu untuk kehidupannya. Zat-zat gizi tersebut akan digunakan untuk hewani menghasilkan tenaga, mengganti sel tubuh yang rusak, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral dan air. Oleh sebab itu dalam pembuatan makanan ikan, yang perlu diperhatikan adalah pemilihan bahannya. Bahan-bahan tersebut harus memnuhi beberapa syarat, yaitu: mempunyai nilai gizi tinggi, mudah diperoleh, mudah diolah, tidak mengandung racun, harganya relative murah, bukan makanan pokok manusia sehingga tidak merupakan saingan.
            Salah satu hewan yang dapat memenuhi syarat seperti di atas yang juga sebagai sumber protein hewani adalah bekicot . Daging bekicot dapat dijadikan tepung untuk campuran pakan ikan. Jumlah penggunaannya berkisar 5 sampai 15%. Apabila tepung bekicot yang digunakan dari tepung bekicot mentah (raw snail meal) maka persentase penggunaannya rendah. Selain dalam bentuk tepung, bekicot juga dapat diberikan dalam bentuk segar, misalnya untuk pakan ikan lele. Daging bekicot ini sebaiknya dicacah terlebih dahulu sebelum ditaburkan ke dalam kolam (Tim Penulis Swadaya,1992).
Tabel 1. Komposisi Kimia Tepung Achatina fulica dalam 100 gr Bahan
Komposisi
Bahan
Tepung Bekicot Mentah (gr)
Tepung Bekicot Rebus(gr)
Air
7,59
7,54
Protein
59,27
57,72
Lemak
3,62
4,60
Kalsium
6,40
7,83
Fosfor
0,84
0,95
Serat Kasar
2,47
0,08
Inert
19,81
21,28
Sumber: Komplang, 1979
Data bahan kandungan protein daging bekicot untuk bahan makanan ternak dapat dilihat pada table 2
Tabel 2. Bahan Kandungan Protein Daging Bekicot Untuk Bahan Makanan Ternak
Bahan
Protein
Serat
Kasar
Lemak
abu
BETN
Ca
P
Tepung
Bekicot
Dengan kulit
5,24
9,47
0,33
60,17
27,30
-
-
Tepung bekicot
Mentah
64,14
2,67
3,92
-
-
6,93
0,92
Tepung bekicot rebus
62,43
0,09
4,98
-
-
8,47
1,03
Sumber: Lembaga  Penelitian Peternakan Bogor,1976
            Hasil menunjukkan bahwa daging bekicot mengandung protein hewan yang sangat tinggi. Kandungan proteinnya meliputi ikatan zat-zat pada asam amino yang kegunaannya sangat penting bagi pertumbuhan tubuh. Jika dibandingkan dengan telur ayam, nilai protein yang dikandung daging bekicot lebih tinggi.
            Protein terdiri dari asam-asam amino yang mengandung unsure Carbon, Hidrogen, Oksigen, dan unsure Nitrogen. Molekul protein juga mengandung fosfor dan belerang. Beberapa jenis protein mengandung jenis logam seperti besi dan tembaga.
Potein dalam pakan ternak sangat penting bagi kehidupan ternak karena zat tersebut merupakan protoplasma aktif dalam sel hidup. Nilai yang terkandung dalam protein pakan ternak secara umum merupakan zat organic yang mengandung karbon, hydrogen dan oksigen serta sulfur.
            Senyawa protein dalam biomolekul berperan sebagai unsure nucleoprotein dalam kromosom yang merupakan cetakan dalam proses keturunan. Sebagai enzim yang memacu proses reaksi-reaksi dalam kehidupan. Sebagian hormone berfungsi sebagai saran kontraksi dan sebagai antibody yaitu intervensi benda asing. Protein dalam bahan makanan yang dikonsumsi hewan akan diserap dalam bentuk asam amino. Komposisi asam amino hewan hampir bersamaan dengan komposisi asam amino manusia. Sintesis protein dalam tubuh hanya dapat terjadi apabila tersedia 20 jenis asam amino yang digunakan untuk menyusun rangkaian polopeptida (protein) tersebut.

SAMPEL
Sampel yang digunakan adalah ikan lele dumbo yang berukuran 15 cm yang mempunyai berat 5 gr, yang berisi 10 ekor bibit ikan lele dumbo untuk setiap bak dan ada 18 buah bak, sehingga jumlah keseluruhan sampel 180 ekor atau disebut juga dengan sampel total .
ALAT DAN BAHAN
ALAT
Bak (ukuran 1 m  x 0,75 m x 0,5m), timbangan, jaring ikan, neraca analitik, labu kjeldhal, alat destilasi, gelas ukur, Erlenmeyer, biuret, pipet volum, beaker gelas, pisau.
BAHAN
Ikan lele dumbo, pelet komersil, bekicot, H2SO4 pekat, Na2SO4 anhidrat, logam Zn, NaOH 40%, HCl 0,1 N, aquades, batu didih, dan penolftalein.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen non factorial dengan desain penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL). Penelitian ini menggunakan 3 perlakuan dan 6 kali ulangan. Setiap ulangan terdiri dari 10 ekor ikan lele dumbo.
R1 = Pelet Komersil + 0% Bekicot
R2 = Pelet Komersil + 30% Bekicot
R3 = Pelet Komersil + 40% Bekicot
Data dianalisis dengan analisis varians (ANAVA) pada taraf signifikansi 99% atau α=0,01 dengan kriteria jika F hitung ≥ F tabel maka tolak Ho, artinya perlakuan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap rataan nilai pengamatan (respon). Untuk mengetahui perlakuan mana yang memberikan pengaruh dilakukan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT).
PELAKSANAAN PENELITIAN
DI LAPANGAN
Persiapan Bak Pemeliharaan
Bak pemeliharaan yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 18 buah berukuran 1m x 0,75m x 0,5m per perlakuan. Sebelum bibit lele dumbo dimasukkan ke dalam bak terlebih dahulu bak diisi dengan air dan diberi larutan PK 5% dan dibiarkan selama 1 minggu untuk mematikan bibit penyakit yang mungkin ada dalam bak, barulah bak siap untuk dipakai. Bak pemeliharaan yang digunakan adalah jenis bak yang berlantai dasar yang terbuat dari semen.
Penyediaan bibit
Bibit yang digunakan adalah bibit lele dumbo berukuran 10-15 cm yang mempunyai berat 5 gr berjumlah 180 ekor dimana di setiap bak diisi oleh 10 ekor bibit lele dumbo.
Persiapan ransum
Pelet komersial yang digunakan adalah pelet ikan lele dumbo dengan kode 781 yang diperolah dari toko penjual pakan ternak, sedangkan pembuatan pakan bekicot dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Bekicot dikeluarkan dari cangkangnya dan kemudian direbus agar mikroorganisme penyebab penyakit yang terkandung di dalam bekicot mati dan lendirnya hilang. Air rebusan ditiriskan selanjutnya bekicot dihaluskan, setelah halus dicampurkan ke dalam pelet komersil sebanyak 30 % untuk perlakuan R2 dan R 40% untuk perlakuan R3 selanjutnya dibentuk butiran-butiran kecil seperti pelet dan dijemur hingga kering dan siap digunakan. Untuk menentukan kadar persentase bekicot dapat digunakan rumus sebagai berikut:
%  =
Pemeliharaan
Pemberian makan dialkukan dengan 3 sehari, pada pagi hari pukul 08.00-09.00, sore hari pukul 16.00 – 17.00, dan malam hari pukul 21.00-22.00 pemberiannya dengan cara menebar pakan dilokasi tertentu agar tidak terjadi perebutan pakan dan memudahkan ikan mengenali lokasi pakannya.
Air di dalam bak senantiasa mengalami perubahan baik dalam hal jumlah maupun sifat fisik dan kimia. Hal ini akibat adanya proses penguapan, kebocoran ataupun proses biologi dan kimia. Akibat perubahan itu, suatu saat kondisi air tidak mampu mendukung kehidupan dan pertumbuhan lele secara baik. Oleh sebab itu dalam pemeliharaan lele, air kolam diganti setiap 7 (tujuh) hari sekali. Selama pemeliharaan penimbangan ikan lele dilakukan pada hari pertama dan selanjutnya setiap 7 hari sekali. Jumlah makanan yang diberikan setiap hari dapat ditentukan dengan rumus :
Jumlah makanan setiap hari  =
berat badan x jumlah ikan dalam bak
DI LABORATORIUM
Penentuan kadar protein dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : tahap destruksi, destilasi, dan titrasi dan pembuatan larutan blanko.
Perhitungan % N =
Setelah diperoleh % N selanjutnya dihitung kadar protein dengan mengalikan suatu faktor yaitu 6,25 sehingga % protein = %N x 6,25
HASIL DAN PEMBAHASAN  
Ikan lele yang diberi tambahan pakan bekicot menunjukkan pertambahan berat badan yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan lele yang diberi pakan komersil. Semakin banyak penambahan pakan bekicot pertambahan berat ikan lele semakin tinggi.
Dari hasil anava, diperoleh F hitung = 5093,30, sedangkan harga F tabel pada taraf signifikan 1% = 6,36. Karena F hitung lebih besar dari F tabel maka dalam penelitian ini Ho ditolak sekaligus menerima Ha dalam artian ada pengaruh pemberian pakan bekicot ( Achatina fulica) terhadap berat badan ikan lele dumbo ( Clarias geriepinus).
Ikan lele yang diberi tambahan pakan bekicot menunjukkan kadar protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan ikan lele yang diberi pakan komersil.
Dari analisa data yang dilakukan kadar protein ikan lele dumbo yang diberi pakan bekicot sangat nyata ( α = 0,01).
Dari hasil anava, diperoleh F hitung = 88, 93 sedangkan harga F tabel pada taraf signifikan 1% = 6,36. Karena F hitung > dari F tabel maka dalam penelitian ini Ho ditolak sekaligus menerima Ha dalam artian ada pengaruh pemberian pakan bekicot (Achatina fulica) terhadap kadar protein ikan lele dumbo (Clarias geriepinus).
Pengaruh Pemberian Pakan Yang Berbeda Terhadap Perkembangan Berat Badan
Semua aktivitas ikan lele dumbo membutuhkan banyak energi baik aktivitas yang terlihat maupun aktivitas yang tidak terlihat. Misalnya untuk bernapas, berenang, mencerna makanan dan aktivitas yang lainnya sehingga unsure gizi ini merupakan unsur utama disamping protein.
Ransum yang mengandung zat-zat gizi (karbohidrat, protein, vitamin dan mineral) yang cukup dan seimbang dan kadar presentase pemberian bekicot pada perlakuan R3 memberikan pengaruh yang lebih baik daripada perlakuan R1 dan R2. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa ransum yang digunakan pada perlakuan R3 lebih baik. Hal ini disebabkan karena zat yang satu saling melengkapi dengan zat yang lain dengan kadar persentase yang tepat atau terjadi supplementary effect.
Pertumbuhan sebagian besar dipengaruhi oleh pemberian makanan yang optimal dalam hal keseimbangan nutrient-nutriennya, kandungan energi dan ketersediaan nutrient serta kondisi lingkungan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan energi dan protein dalam pakan bekicot ternyata mencukupi untuk kebutuhan pertumbuhan sehingga akan mempengaruhi berat badan.
Pengaruh Pemberian Pakan Yang Berbeda Terhadap Kadar Protein Ikan Lele Dumbo
Protein sangat bernanfaat bagi tubuh antara lain untuk pertumbuhan dan perkembangan tubuh, perbaikan dan pergantian sel-sel jaringan tubuh yang telah tua, serta produksi enzim pencernaan dan enzim metabolisme. Bekicot mengandung protein yang tinggi yaitu 59,27 gram per 100 gram bahan kering sehingga ketika dijadikan pakan bagi ikan lele dumbo akan meningkatkan kadar protein ikan tersebut dan juga akan mengakibatkan pertumbuhan ikan lele dumbo menjadi lebih baik bila dibandingkan dengan ikan lele yang hanya diberi pakan komersil.
KESIMPULAN
Pemberian pakan bekicot memberi pengaruh yang positif terhadap perkembangan berat badan ikan lele dumbo dimana pemberian pakan bekicot dengan persentase 40% mempunyai berat badan yang lebih besar jika dibandingkan dengan pemberian pakan bekicot dengan konsentrasi 30% dan 0%.
Pemberian pakan bekicot memberi pengaruh yang positif terhadap perkembangan kadar protein ikan lele dumbo dimana pemberian pakan bekicot dengan persentase 40% mempunyai kadar protein yang lebih besar jika dibandingkan dengan pemberian pakan bekicot dengan konsentrasi 30% dan 0%.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, (1976), Laporan Khusus Lembaga Penelitian Peternakan, Bogor.
Anggorogi,R.,(1979), Ilmu Makanan Ternak Umum, Gramedia, Jakarta.
Asa,K.,(1989), Budidaya Bekicot, Penerbit Bhatara, Jakarta.
Emmy,S.,(1980), Pengaruh Bahan Makanan Terhadap Nilai Gizi Isi Perut Bekicot (Achatina fulica), Karya Ilmiah, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Hieronymus,(2005),Budidaya Bekicot, Cetakan ke-15, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Keenan,(1993), Kimia Untuk Universitas, Erlangga, Jakarta.
Lembaga Penelitian Peternakan, (1976), Bogor.
Mujiman, A.I.,(1991), Makanan Ikan, Cetakan ke- 4, Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.
Rasyaf,M.,(1993), Metode Kwantitatif Industri Ransum Ternak, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Redaksi Agromedia,(2007), Beternak Lele Dumbo, Cetakan ke- 1, Penerbit Agromedia Pustaka, Jakarta.
Winarno,F.G.,(1991), Kimia Pangan Dan Gizi, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

1 komentar:

  1. artikelnya sangat membantu mbak... terimakasih banyak...

    BalasHapus